Arca perunggu ditemukan di Dusun Jetis, Tirtoadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dapat dikenali sebagai Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara atau Padmapani, dengan ciri utamanya berupa Dhyani Budha Amitabha pada mahkotanya. Atribut lain adalah memegang padma yang di atasnya ada pustaka atau buku. Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara dari Jetis, Tirtoadi, Mlati, Sleman tangan kanannya bersikap waradamudra atau waramudra, yaitu sikap tangan memberi anugerah, seperti sikap tangan Dhyani Budha Ratnasambhawa.
Mahkota arca ini berbentuk kiritamukuta yang menyatu dengan sirascakra atau lingaran cahaya yang menandakan kedewaannya. Memakai hara atau kalung, keyura atau kelat bahu di lengan, dan kankana atau gelang. Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara digambarkan berdiri di atas lapik atau landasan arca berbentuk teratai merah atau padmasana. Arca digambarkan memakai kain panjang dengan motif hias flora, berupa bunga dan daun.

Di dalam agama Budha dikenal adanya dua aliran, yaitu Budha Hinayana dan Budha Mahayana. Hal ini dapat dilihat dari alam kedewaan atau pantheon yang dipuja. Budha Hinayana tidak mengenal alam kedewaan yang luas sebagaimana Budha Mahayana. Di Indonesia yang berkembang adalah Budha Mahayana, dengan pemujaan terhadap Dhyani Budha, Manusi Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dari ketiga tingkatan Budha tersebut yang banyak dipuja adalah Dhyani Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dhyani Budha terlengkap dapat dilihat pada Candi Borobudur, sedangkan Dhyani Bodhisatwa dijumpai pada beberapa candi, seperti Candi Plaosan Lor, Candi Risan, Candi Ngawen, dan Candi Jetis, Tirtoadi, Mlati, Sleman.
Awalokiteșwara merupakan salah satu dari Dhyani Bodhisatwa, yang berarti juru penerang, mendapat pengetahuan Bodhi tetapi menolak masuk nirwana dan berkeinginan memberi petunjuk kepada manusia untuk mencapai kebenaran. Dhyani Bodhisatwa berasal dari lima Budha dalam meditasi atau Dhyani Budha. Kelima Dhyani Bodhisatwa itu adalah Samantrabhadra, Wajrapani, Ratnapani, Awalokiteșwara (Padmapani), dan Wiswapani, yang muncul dari Dhyani Budha Wairocana, Aksobya, Ratnasambhawa, Amitaba, dan Amogasidhi. (R.S. Gupte, 1972). Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara sering pula disebut Padmapani, dengan ciri khas adanya arca Dhyani Budha Amitaba pada makuta atau mahkotanya.
Arca Dhyani Budha Awaloiteșwara yang ditemukan di Jetis, Tirtoadi, Mlati, Sleman, menjadi bukti bahwa Jetis, Tirtoadi, Mlati, Sleman pernah ada penganut agama Budha Mahayana. Di Daerah Istimewa Yogyakarta perkembangan agama Budha dapat diketahui dari prasasti Kalasan yang merupakan keterangan tertulis yang berisi tentang agama Budha. Dari prasasti yang memuat angka tahun 700 Şaka atau 778 Masehi didapat keterangan tentang pendirian bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta kerajaan. Bangunan suci itu dibangun oleh Mahârâja Tejahpurnapana Panamkarana atas bujukkan Guru Sang Raja yang merupakan mustikanya keluarga Şailendra. Di samping itu juga disebutan bahwa Panamkarana menghadiahkan desa Kalasa kepada para Sangga. (Sartono Kartadirdja dkk, 1975). Sangga adalah para pemeluk agama Budha. Dengan demikian agama Budha telah berkembang di wilayah Daerah Isimewa Yogyakarta sejak lama.
Dari analogi tentang berkembangnya agama Budha di pulau Jawa, maka arca Dhani Bodhisatwa Awalokiteswara dari Jetis, Tirtoadi, Mlati, Sleman diperkirakan berasal dari abad IX – X Masehi.

Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara disimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nomor inventaris BG 1103. Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara ditetapkan sebagai cagar budaya dengan SK Bupati 6.13/Kep.KDH/A/2019 pada tanggal 1 Februari 2019.